Warisan Nama, Penjaga Identitas: Revitalisasi Kearifan Lokal Sistem Penamaan Tradisional Masyarakat Dayak Lundayeh di Kampung Labang, Kecamatan Lumbis Ogong

Authors

  • Margaretha Yuliana Labo Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara Author
  • Agustinus Dedy Kristianto Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara Author
  • Veronica Noni Setiawati Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara Author
  • Benediktus Raka Pramudita Universitas Borneo Tarakan, Kalimantan Utara Author

DOI:

https://doi.org/10.58586/8g7j5z45

Keywords:

kearifan lokal, sistem penamaan, Dayak Lundayeh, perbatasan negara, revitalisasi budaya

Abstract

Sistem penamaan tradisional merupakan salah satu unsur kearifan lokal yang menyimpan nilai-nilai identitas, kosmologi, dan genealogi suatu komunitas adat. Namun, di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia, khususnya di Kampung Labang, Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, praktik penamaan tradisional masyarakat Dayak Lundayeh menghadapi ancaman kepunahan akibat penetrasi budaya global dan minimnya dokumentasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Agustus 2025 dengan tujuan merevitalisasi, mendokumentasikan, dan mengintegrasikan kearifan lokal sistem penamaan Lundayeh ke dalam modul pembelajaran komunitas. Metode yang digunakan meliputi participatory rural appraisal (PRA), lokakarya partisipatif, pelatihan pembuatan modul, serta evaluasi pra–pasca kegiatan. Kegiatan diikuti oleh 47 peserta yang terdiri atas tokoh adat, guru, pemuda, dan orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang filosofi penamaan tradisional sebesar 68,5%, terbentuknya kamus nama adat Lundayeh digital, serta komitmen komunitas untuk mengintegrasikan materi ini dalam muatan lokal sekolah. Kegiatan ini meneguhkan bahwa revitalisasi kearifan lokal sistem penamaan bukan sekadar pelestarian budaya, melainkan strategi pembangunan sumber daya manusia berbasis identitas di kawasan perbatasan negara.

References

Adelaar, A. (2022). Naming practices and personal names in Austronesian societies: Patterns, meanings, and transformations. Asian Ethnicity, 23(4), 712–738. https://doi.org/10.1080/14631369.2022.2044781

Alford, R. D. (1988). Naming and identity: A cross-cultural study of personal naming practices. HRAF Press.

Berkes, F. (2017). Sacred ecology (4th ed.). Routledge.

Blommaert, J. (2010). The sociolinguistics of globalization. Cambridge University Press.

Budiman, A., & Arifin, Z. (2023). Literasi budaya lokal dalam kerangka kurikulum merdeka: Tantangan dan peluang bagi komunitas adat perbatasan. Jurnal Pendidikan Karakter, 13(2), 145–162. https://doi.org/10.21831/jpk.v13i2.56231

Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Herder and Herder.

Hadi, S., & Permana, R. (2024). Kearifan lokal sebagai fondasi ketahanan identitas masyarakat perbatasan di Kalimantan: Tinjauan antropologis. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 26(1), 23–44. https://doi.org/10.14203/jmb.v26i1.1187

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, culture, difference (pp. 222–237). Lawrence & Wishart.

Kemdikbudristek. (2022). Panduan pembelajaran dan asesmen: Kurikulum merdeka. Pusat Asesmen dan Pembelajaran.

Kemendikbud. (2022). Buku pedoman pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat perguruan tinggi. Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Muhsyanur et.al. (2024). Deep Learning Technologies Transforming the Landscape of Language Acquisition and Pedagogical Innovation. AHALLIYAH: Jurnal Bahasa Arab Dan Pengajarannya, 1(1), 38–49. https://journal.unisad.ac.id/index.php/ahalliyah/article/view/384

Muhsyanur, M. (2020). Types and trust system based on the ideology of Bugis community culture on local interest values in cenning rara spells. International Journal of Humanity Studies (IJHS), 4(1), 58–68. https://doi.org/https:/doi.org/10.24071/ijhs.v4i1.2652

Muhsyanur, M. (2023a). The Bugis People’s Naming System in Bugis Ethnic Tradition. Journal of Language and Literature, 23(1), 67–76. https://doi.org/10.24071/joll.v23i1.5062

Muhsyanur, M. (2023b). The Effectiveness of Problem-Based Learning on Critical Thinking Skills in Indonesian Language Education. TRICKS: Journal of Education and Learning Practices, 1(3), 12–23. https://journal.echaprogres.or.id/index.php/tricks/article/view/36

Muhsyanur, M. (2024a). Ethnographic Exploration of the Utilization of Contextual Approaches in Learning Indonesian Vocabulary in Elementary Schools. Journal of Student-Centered Learning, 1(1), 73–84.

Muhsyanur, M. (2024b). Implementation of Merdeka Belajar in Indonesian Language Learning in Senior High Schools. Jurnal Ilmiah Insan Mulia, 1(1), 8–14. https://doi.org/10.59923/jiim.v1i1.170

Muhsyanur, M. (2024c). Love-Based Curriculum as a New Paradigm in Language Education : Between Cognition , Affection , and Spirituality. 2(5), 12–19.

Muhsyanur, Rahmatullah, A. S., Misnawati, Dumiyati, & Ghufron, S. (2021). The Effectiveness of “Facebook” As Indonesian Language Learning Media for Elementary School Student: Distance Learning Solutions in the Era of the COVID-19 Pandemic. Multicultural Education, 7(04), 38–47. https://www.mccaddogap.com/ojs/index.php/me/article/view/8%0Ahttps://www.mccaddogap.com/ojs/index.php/me/article/download/8/10

Satriani Satriani, Hasfiana Hasfiana, Nurul Mawaddah, Ariswanto Ariswanto, Nurdalia Nurdalia, Ummul Chairy, Sulaeman Nuhung, M. M. (2025). Cultivating Sacred Earth Islamic Ecotheology Through Environmental Greening Among Santri at MA As ’ adiyah Mattirowalie , Bone Regency. VORS: Journal of Community Service, 3(9), 34–46. https://journal.echaprogres.or.id/index.php/vors/article/view/59

Phinney, J. S. (1992). The Multigroup Ethnic Identity Measure: A new scale for use with diverse groups. Journal of Adolescent Research, 7(2), 156–176. https://doi.org/10.1177/074355489272003

Prahalad, C. K., & Krishnan, M. S. (2020). The new age of innovation: Driving cocreated value through global networks (Adapted ed.). McGraw-Hill Education.

Sari, D. P., Halim, A., & Kurniawan, T. (2023). Cultural amnesia pada komunitas perbatasan: Studi kasus pewarisan nilai di Kabupaten Nunukan. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 12(3), 301–319. https://doi.org/10.23887/jish.v12i3.54821

Sari, N. P., & Mulyani, S. R. (2022). Efektivitas pendekatan participatory action research dalam program pelestarian budaya berbasis komunitas adat. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 8(4), 512–528. https://doi.org/10.22487/j25600157.2022.v8.i4.16234

Taum, Y. Y. (2021). Sistem penamaan dalam tradisi lisan Austronesia: Dimensi kosmologis dan sosiokultural. Jurnal Sastra dan Bahasa Nusantara, 15(1), 1–22. https://doi.org/10.24246/jsbn.v15i1.p1-22

Turner, V. (1969). The ritual process: Structure and anti-structure. Aldine Publishing.

Wahyuni, T., Pratiwi, A., & Setiawan, D. (2024). Identitas budaya dan resiliensi komunitas perbatasan: Studi komparatif di Kalimantan Utara dan Nusa Tenggara Timur. Jurnal Studi Perbatasan, 5(1), 67–89. https://doi.org/10.31315/jspb.v5i1.9821

Widodo, S., & Nisa, K. (2023). Integrasi muatan lokal berbasis kearifan lokal dalam kurikulum perguruan tinggi: Model dan implementasi. Jurnal Pendidikan Tinggi Indonesia, 4(2), 211–229. https://doi.org/10.53547/jpti.v4i2.312

Downloads

Published

2026-03-31

How to Cite

Warisan Nama, Penjaga Identitas: Revitalisasi Kearifan Lokal Sistem Penamaan Tradisional Masyarakat Dayak Lundayeh di Kampung Labang, Kecamatan Lumbis Ogong. (2026). PARASIA: Pengabdian, Riset, Dan Aksi Sosial Indonesia, 1(2), 102-113. https://doi.org/10.58586/8g7j5z45